---------- Selamat Datang ---------- Welkom ---------- Welcome ---------- Bienvenue ---------- Willkommen ---------- Aloha Mai ---------- Swaagatam ---------- Velkomin ---------- Benvenuto ---------- Wëllkomm ---------- Ulo Kumyn Denen Zhyna ---------- Dobro Pozhalovat' ---------- Bienvenidos ---------- Wilujeng Sumping ---------- Yin Dee ---------- Hosh Keldingiz ---------- Irashaimasu ---------- Sugeng Rawuh ---------- Pari Yegak ----------

Wednesday, February 24, 2010

Sebuah Jawaban, Sebuah Perlawanan, (Keringat dan Air Mata)

“Aku BOSAN dedikasiku dipermainkan oleh mereka yang memerintah. Miliki dulu harga diri, tanpa itu kita hanya akan menjadi robot. It’s a reason to believe why i left that”.

State (kampus) dengan seluruh kekuasaan, beserta pengaruh-pengaruh, dan antek-anteknya, sengaja menciptakan tekanan-tekanan terhadap kita untuk mendorong kita untuk melakukan (kekerasan) itu semua. Untuk apa? agar mereka punya legitimasi yang cukup untuk membubarkan pergerakan kita yang tidak sejalan dengan mereka, untuk menghapus idealisme kita yang tidak bertolak-belakang dengan mereka. Mereka (birokrasi) kemudian sengaja menciptakan dalih-dalih yang negatif untuk menciptakan opini publik yang positif buat mereka. Mereka dengan segala keuntungan yang mereka punya (karena mereka punya kekuasaan) berdalih ini semua untuk “mendisiplinkan masyarakat”.

Mundurnya saya dari jabatan (yang dulu saya bilang sial), sekarang buat saya ini adalah sebuah keberuntungan! karena dipecatnya saya oleh birokrat kampus, secara tidak langsung justru meng-Legitimasi kebenaran yang saya lakukan. Mereka melakukan apa yang dulu dinamakan Demokrasi Terpimpin ! Hal ini justru sesuatu yang akan membangkitkan people power suatu saat nanti. Mereka-mereka (para birokrat kampus yang kotor) hanya bentuk lain dari apa yang disebut Rezim, Otoriter, ataupun Diktator. Cikal Bakal Orde Baru di Era Reformasi.

Yang jelas perjuangan ini tidak akan pernah berhenti sampai disini, karena orang-orang seperti saya hanyalah satu dari sekian orang yang akan selalu ada di depan disaat ada mereka-mereka yang berkuasa bersikap mulai otoriter.

apa yang mereka lakukan adalah Penyelewengan Kekuasaan! ini Penindasan Bung! Dan ini menjadi tanggung jawab saya untuk meluruskan itu semua (dan bukankah ini juga seharusnya untuk kita semua kawan? karena mahasiswa adalah agent of change, bukan begitu kawan?)

Semoga hal ini bukan menjadi kehancuran, tapi awal dari kebangkitan kita seluruhnya dalam melawan pembodohan, penindasan, dan pengekangan hak asasi kita sebagai mahasiswa. Karena bila kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi sebuah kebenaran.

Greatness, no matter how brief, stays with a man. (Kejayaan seberapapun singkatnya, akan tetap selalu dikenang). Pembuat sejarah berlalu, tetapi jejak kesejarahannya menetap. Patah tumbuh hilang berganti, gugur satu tumbuh seribu”.

Salam.
Penulis *)

(Sebuah Surat Terbuka untuk Mereka, Catatan Harian TYW, 2oo8)

*) Mahasiswa FH-UB ‘o4 dan FIS-UB ‘o7 (Demisioner KaHima HI 2oo7-2oo8, dipecat dan diberi sanksi seumur hidup dilarang berkecimpung di lingkup organisasi kampus karena di anggap melawan kebijakan fakultas)

**) Tulisan ini memiliki kaitan dengan tulisan lainnya : "Pemilihan KaHim Menjadi Cerminan Keburukan Bersama"

No comments:

Post a Comment

Post a Comment